JAKARTA, KUTIPAN.OR.ID — Perekonomian Indonesia memasuki pertengahan September 2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan ketahanan, meski tekanan dari perekonomian global dan pergerakan nilai tukar masih menjadi perhatian.
Data terbaru menunjukkan inflasi nasional pada Agustus 2026 berada di level 3,19 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Sementara secara bulanan, inflasi Agustus tercatat 0,21 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 1,86 persen.
Di sisi lain, pemerintah mulai mempersiapkan strategi ekonomi 2027 dengan target pertumbuhan yang lebih agresif. Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027, dengan investasi menjadi salah satu sumber utama akselerasi pertumbuhan.
Inflasi Agustus 2026 Naik, Pangan Jadi Perhatian
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen yoy, meningkat dibandingkan Juli yang berada di level 2,88 persen.
Inflasi bulanan pada Agustus tercatat 0,21 persen. Sementara inflasi inti mencapai 2,92 persen yoy dengan inflasi bulanan sebesar 0,21 persen.
Bank Indonesia menyebut tekanan harga pada kelompok volatile food menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan dan 4,06 persen secara tahunan.
Komoditas yang memberikan kontribusi antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Di sisi lain, kelompok administered prices justru mengalami deflasi 0,33 persen secara bulanan, antara lain dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara serta harga BBM nonsubsidi.
Kondisi tersebut membuat pengendalian harga pangan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat hingga akhir 2026.BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen
Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen berdasarkan Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026.
Suku bunga Deposit Facility dipertahankan pada level 4,75 persen, sedangkan Lending Facility berada di 6,50 persen. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Data indikator Bank Indonesia juga menunjukkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai sekitar 146,5 miliar dolar AS.
Sementara itu, data JISDOR Bank Indonesia pada 10 September 2026 berada di sekitar Rp17.536 per dolar AS. Pada 11 September, halaman indikator BI mencatat JISDOR sekitar Rp17.611 per dolar AS.
Pergerakan rupiah menjadi salah satu faktor yang terus dipantau karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang impor, biaya produksi, hingga tekanan inflasi.
Konsumsi Masyarakat Mulai Menunjukkan Ketahanan
Di tengah tantangan ekonomi, indikator konsumsi domestik menunjukkan perkembangan yang relatif positif.
Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 tumbuh 0,5 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kelompok suku cadang dan aksesori, kemudian makanan, minuman, dan tembakau.
Namun secara bulanan, penjualan eceran Agustus diperkirakan mengalami kontraksi tipis sebesar 0,1 persen.
Sebelumnya, penjualan eceran pada Juli masih tumbuh 1,1 persen yoy setelah mengalami kontraksi 3 persen pada Juni. Bank Indonesia menilai perkembangan tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih memiliki daya tahan meski momentum belanja setelah periode hari besar keagamaan dan libur sekolah mulai normal.
Selain penjualan eceran, keyakinan konsumen pada Agustus 2026 juga meningkat dibandingkan Juli, menurut hasil Survei Konsumen Bank Indonesia. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang perekonomian nasional.
Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen pada 2027
Pemerintah kini mulai mengarahkan perhatian lebih besar pada akselerasi ekonomi tahun depan.
Kementerian Keuangan menyampaikan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027. Salah satu strategi utama yang disiapkan adalah mendorong pertumbuhan investasi sekitar 7 persen agar memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Target tersebut lebih tinggi dibandingkan sasaran pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026. Pemerintah melihat peningkatan investasi, produktivitas, konsumsi, dan penguatan sektor-sektor ekonomi sebagai bagian penting untuk mencapai target tersebut.
Komisi XI DPR RI bersama pemerintah juga telah menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dan sasaran pembangunan dalam RAPBN 2027 pada 2 September 2026. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam penyusunan APBN tahun depan.
APBN dan Ruang Fiskal Tetap Jadi Penopang
Dari sisi fiskal, pemerintah menyatakan kondisi APBN tetap memiliki ketahanan untuk mendukung perekonomian.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan penerimaan negara menunjukkan kinerja yang kuat sementara belanja tetap dikendalikan. Pemerintah menilai kondisi tersebut memberikan ruang untuk menjaga stabilitas sekaligus menjalankan berbagai agenda pembangunan.
Pada September, pemerintah dan Komisi XI DPR juga menyepakati pagu anggaran Kementerian Keuangan dalam APBN 2027 sebesar sekitar Rp49,80 triliun. Anggaran tersebut akan digunakan untuk mendukung pelaksanaan berbagai fungsi Kementerian Keuangan, termasuk kebijakan fiskal, pengelolaan penerimaan dan belanja negara, serta pengelolaan perbendaharaan dan risiko.
Ketidakpastian Global Masih Membayangi
Meski sejumlah indikator domestik menunjukkan ketahanan, Indonesia tetap menghadapi risiko dari lingkungan global.
Pergerakan nilai tukar, harga komoditas, kebijakan bank sentral negara maju, serta perkembangan geopolitik dapat memengaruhi arus modal dan kondisi pasar keuangan domestik.
Bank Indonesia pada 11 September juga menyoroti kerja sama negara-negara BRICS dalam memperkuat penggunaan mata uang lokal sebagai salah satu respons terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Di tengah kondisi tersebut, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan otoritas terkait menjadi penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
Prospek Ekonomi Indonesia hingga Akhir 2026
Memasuki kuartal terakhir 2026, tantangan utama ekonomi Indonesia bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu menjaga daya beli masyarakat.
Inflasi Agustus yang mencapai 3,19 persen masih berada dalam sasaran BI, tetapi kenaikan inflasi pangan menunjukkan bahwa pasokan dan distribusi komoditas tetap perlu diperhatikan.
Di sisi konsumsi, pertumbuhan penjualan eceran dan meningkatnya keyakinan konsumen memberikan sinyal bahwa aktivitas domestik masih memiliki daya tahan. Sementara stabilitas rupiah, cadangan devisa, dan kebijakan suku bunga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Dengan pemerintah mulai menyiapkan kebijakan untuk mengejar pertumbuhan 6 persen pada 2027, kinerja ekonomi pada sisa 2026 akan menjadi fondasi penting.
Jika konsumsi tetap kuat, investasi meningkat, inflasi dapat dikendalikan, dan stabilitas rupiah terjaga, Indonesia memiliki ruang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memasuki 2027 dengan fondasi ekonomi yang lebih kuat.





Memuat komentar...