JAKARTA, Kutipan.or.id — Harga minyak dunia kembali bergerak naik pada Selasa (15/9/2026), setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak global.

Harga minyak mentah Brent naik sekitar 1,77 persen menjadi US$107,55 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat sekitar 1,85 persen menjadi US$103,27 per barel pada pukul 06.33 GMT. Kedua acuan tersebut juga telah menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan sebelumnya.

Kenaikan harga terjadi ketika pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi akibat konflik yang meluas di kawasan Teluk.

Infrastruktur Minyak Arab Saudi Terdampak

Salah satu perhatian utama pasar adalah fasilitas East-West Pipeline milik Arab Saudi yang masih mengalami gangguan setelah serangan pada Jumat lalu.

Jalur tersebut memiliki posisi strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Menurut laporan Reuters, Arab Saudi menggunakan jalur tersebut untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari atau sekitar 4 persen dari pasokan minyak global menuju Yanbu. Gangguan yang berlangsung lebih lama berpotensi mempersempit pasokan minyak yang tersedia untuk pasar internasional.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar semakin sensitif terhadap setiap laporan mengenai kerusakan fasilitas energi maupun perkembangan keamanan di kawasan.

Serangan Baru Menambah Kekhawatiran

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi.

Reuters melaporkan serangan menggunakan rudal dan drone menyasar pangkalan udara Khamis Mushait di Arab Saudi bagian selatan. Serangan tersebut dilaporkan mengenai sejumlah fasilitas militer, termasuk hanggar pesawat, sistem radar, landasan dan depot amunisi.

Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas dan berdampak lebih besar terhadap jalur distribusi energi dunia.

Pasar minyak kini tidak hanya mencermati produksi negara-negara penghasil minyak, tetapi juga keamanan infrastruktur dan jalur pelayaran yang menjadi penghubung utama antara produsen dan konsumen global.

Selat Hormuz Kembali Jadi Perhatian

Selain kondisi infrastruktur Arab Saudi, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar.

Data awal Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintas di Selat Hormuz turun menjadi empat pada Senin, dari 10 kapal sehari sebelumnya. Sebelum perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari, jalur tersebut membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman dan memperbesar risiko kelangkaan pasokan di berbagai negara.

Kondisi itu menjadi perhatian khusus bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah.

Risiko terhadap Ekonomi Global

Lonjakan harga minyak tidak berhenti pada pasar energi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi industri dan distribusi barang.

Jika berlangsung dalam waktu lama, tekanan tersebut berpotensi mendorong inflasi di berbagai negara. Bank sentral pun dapat menghadapi pilihan yang semakin sulit antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan tekanan harga.

Pasar keuangan global sudah mulai merespons meningkatnya risiko energi. Investor memperhitungkan kemungkinan bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memengaruhi kebijakan suku bunga di sejumlah negara.

Dengan demikian, perkembangan di Timur Tengah kini memiliki konsekuensi yang jauh melampaui kawasan konflik.

Arab Saudi Menghadapi Tekanan Pasokan

Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia sehingga gangguan pada infrastrukturnya menjadi perhatian serius pasar.

Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi berpotensi menghadapi keterbatasan minyak yang tersedia untuk ekspor dalam beberapa hari apabila operasi East-West Pipeline tidak segera dipulihkan. Gangguan tersebut secara teoritis dapat menghilangkan hingga sekitar 4 persen pasokan global dari pasar.

Namun, besarnya dampak akhir masih bergantung pada tingkat kerusakan dan berapa lama fasilitas tersebut tidak beroperasi.

Pasar juga akan mencermati apakah Arab Saudi dapat menggunakan jalur alternatif dan cadangan yang tersedia untuk mempertahankan ekspor.

Pasar Menunggu Perkembangan Berikutnya

Di tengah ketidakpastian tersebut, pelaku pasar kini menunggu perkembangan mengenai pemulihan infrastruktur minyak Arab Saudi, keamanan Selat Hormuz dan arah konflik di kawasan Timur Tengah.

Setiap perkembangan positif yang dapat mengurangi risiko gangguan pasokan berpotensi menekan kembali harga minyak. Sebaliknya, serangan baru atau kerusakan tambahan terhadap fasilitas energi dapat memicu kenaikan harga lebih lanjut.

Bagi perekonomian global, persoalannya bukan semata-mata harga minyak yang menembus US$100 per barel. Risiko yang lebih besar adalah apabila gangguan pasokan berlangsung lama dan menyebar ke jalur energi strategis lainnya.

Jika kondisi tersebut terjadi, tekanan terhadap inflasi, biaya logistik dan pertumbuhan ekonomi dunia dapat semakin besar.

Untuk saat ini, pasar minyak masih berada dalam situasi sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Harga energi akan terus menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar konflik Timur Tengah memengaruhi perekonomian dunia.

Kutipan.or.id — Kenaikan harga minyak kembali menunjukkan bahwa stabilitas energi global sangat bergantung pada keamanan kawasan dan kelancaran jalur distribusi minyak dunia.